[Review] Film Winter In Tokyo

Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya… dan saya akan merasa saya bisa menghadapi segalanya.
–Nishimura Kazuto (Winter in Tokyo)

 

13996239_1602645156699303_3997837219553457185_o

 1 Agustus 2016 lalu saya dan teman-teman datang ke premiere film Winter In Tokyo di CGV Blitz Grand Indonesia, film drama romantis yang diproduksi oleh Unlimited Production. Film ini menarik perhatian karena di antara banyak film yang menjual faktor “luar negeri” dengan lokasi kebarat-baratan, Winter In Tokyo tidak hanya memanjakan mata dengan penampilan aktor dan artis terkenal seperti Dion Wiyoko, Morgan Oey, Pamela Bowie, Kimberly Rider, Brandon Salim , Ferry Salim, Brigitta Cynthia dan lainnya, penonton juga disuguhi sinematografi pemandangan Tokyo yang indah apalagi saat bertabur salju. Film yang release di Bioskop sejak 11 Agustus 2016 ini diadaptasi dari novel cinta romantis “Winter In Tokyo” karya Ilana Tan, salah satu seri tetralogi empat musim yang sangat digandrungi.

Sepanjang film berjalan, setiap ada adegan romantis atau yang bikin baper mendadak bioskop riuh seolah kebawa suasana, saya kadang tersenyum geli mendengarnya, haha! karena ada adegan romantisnya yang menurut saya terkesan dipaksakan, tapi mungkin ini karena terbiasa review film, sedangkan penonton lainnya, mereka sepertinya benar-benar menikmati alur cerita, tapi tidak dengan saya. Bukan karena cerita novel tentang cinta ini tidak menarik, tapi memang setiap menonton film saya terlihat diam duduk di kursi tanpa suara tapi mata ini rasanya terlalu berisik mengamati dan mengomentari frame demi frame, begitulah! bagi saya dan mereka yang berkecimpung di dunia media dan semacamnya, terkadang kami tidak pernah bisa benar-benar menikmati suatu film, apapun filmnya, apalagi kalau sudah duduk samping-sampingan dengan produser, sutradara atau penulis, tapi ini juga yang jadi momen saya belajar lebih dari teman-teman produksi.

Mimpi tidak akan bertahan lama.Kita boleh saja hidup dalam mimpi, tetapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk, dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa menerima.
– Keiko Ishida (Winter in Tokyo)

Dari sekian banyak kumpulan novel, novel Ilana Tan termasuk salah satu novel yang berkarakter, salah satunya bisa dilihat dari tutur kata yang terkesan “baku” karena memang ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ini juga yang menjadi kesan pertama ketika menonton Winter In Tokyo, penulis dan tim produksi memang memakai strategi ini layaknya film Jepang yang di-Indonesia-kan. Di awal-awal adegan sebagian mungkin ada yang bingung, apakah semua karakter di dalam film ini adalah orang Indonesia? Karena hampir sebagian besar dialog menggunakan bahasa Indonesia. Ternyata tidak, film ini bercerita tentang Nishimura Kazuto (Dion Wiyoko) yang dipertemukan di apartemen yang sama dengan Ishida Keiko (Pamela Bowie)  dan kakak beradik Tomoyoki (Brandon Salim) dan Haruka (Brigitta Cynthia). Unik memang dan bagi pecinta novel Ilana Tan sangat terlihat menikmati hal ini, bagi mereka apa yang ada di film hampir persis dengan apa yang diimajinasikan dari novel. Sementara penonton lain, awalnya mungkin merasa canggung dengan dialog-dialog tersebut, tapi perpaduan dialog-dialog baper penulis skenario Titien Wattimena dan kutipan romantis ala Ilana Tan mampu membuat penonton lama kelamaan hanyut dalam cerita, apalagi sutradara Fajar Bustomi terlihat berusaha memaksimalkan setiap sudut menarik di Tokyo dan memainkan ekspresi-ekspresi baper antara Nishimura Kazuto dan Ishida Keiko. Nishimura Kazuto dan Ishida Keiko di sini mempunyai masalah yang sama, MASA LALU! Mungkin tidak ada yang lebih mengganggu dibandingkan masa lalu yang mengikat perasaan. Nishimura Kazuto yang berusaha melupakan mantan, sementara Ishida Keiko yang terjebak dalam ambisinya mencari pujaan hati dari masa kecil.
Salju, mantan, kutipan dan adegan romantis dengan musik dan lagu yang melengkapi emosi, Bukankah ini kombinasi kuat yang bikin baper? Untuk yang masih terikat dengan masa lalu, tidak ada salahnya menonton film ini, supaya membuka mata bahwa banyak alasan untuk move-on dari masa lalu dan siapa tahu masa depanmu justru ada di sekitarmu *koi

bg87h3pnpvl_zpshg3ij4wb

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s